Label

Kamis, 24 Februari 2011

Rastafara

Rasta, atau Gerakan Rastafari, adalah sebuah gerakan agama baru yang mengakui Haile Selassie I, bekas kaisar Ethiopia, sebagai Raja diraja, Tuan dari segala Tuan dan Singa Yehuda sebagai Yah (nama Rastafari untuk Allah, yang merupakan bentuk singkat dari Yehovah yang ditemukan dalam Mazmur 68:4 dalam Alkitab versi Raja James), dan bagian dari Tritunggal Kudus. Nama Rastafari berasal dari Ras Täfäri, nama Haile Selassie I sebelum ia dinobatkan menjadi kaisar. Gerakan ini muncul di Jamaika di antara kaum kulit hitam kelas pekerja dan petani pada awal tahun 1930-an, yang berasal dari suatu penafsiran terhadap nubuat Alkitab, aspirasi sosial dan politik kulit hitam, dan ajaran nabi mereka, seorang penerbit dan organisator Jamaika kulit hitam, Marcus Garvey, yang visi politik dan budayanya ikut menolong menciptakan suatu pandangan dunia yang baru. Gerakan ini kadang-kadang disebut “Rastafarianisme”; namun hal ini dianggap tidak pantas dan menyinggung perasaan banyak kaum Rasta.
Gerakan Rastafari telah menyebar di berbagai tempat did unia, terutama melalui imigrasi dan minatnya dilahirkan oleh musik Nyahbinghi dan reggae —khususnya musik Bob Marley, yang dibaptiskan dengan nama Berhane Selassie (Cahaya Tritunggal) oleh Gereja Ortodoks Ethiopia sebelum ia meninggal, sebuah langkah yang juga diambil belakangan oleh jandanya, Rita. Pada tahun 2000, ada lebih dari satu juta Rastafari di seluruh dunia. Sekitar 5-10% dari penduduk Jamaika mengidentifikasikan dirinya sebagai Rastafari. Kebanyakan kaum Rastafari vegetarian atau hanya memakan jenis-jenis daging tertentu. Di AS ada banyak sekali restoran vegetarian Hindia Barat, yang menyediakan makanan Jamaika.

Daftar isi

[sembunyikan]

Doktrin

Rastafari berkembang di antara penduduk yang sangat miskin, yang merasa bahwa masyarakat tidak mau menolong mereka kecuali membuat mereka menjadi lebih menderita. Kaum Rasta memandang diri mereka sebagai penggenap suatu visi tentang bagaimana orang Afrika harus hidup. Meerka merebut kembali apa yang mereka anggap sebagai kebudayaan yang telah dicuri dari mereka ketika dibawa di kapal-kapal budak ke Jamaika, tempat lahir gerakan ini.
Doktrin Rastafari sangat berbeda dengan norma-norma pikiran dunia barat modern. Hal ini disengaja oleh kaum Rasta sendiri. Berbeda dengan banyak kelompok keagamaan modern dan Kristen yang cenderung menekankan konformitas dengan “kekuasaan yang ada”, Rastafari sebaliknya menekankan kesetiaan kepada konsep mereka tentang “Sion” dan penolakan masyarakat modern (“Babel”). “Babel” dalam hal ini dianggap memberontak terhadap “Penguasa Dunia Sejati” (YAH) sejak zaman Nimrod.
“Cara hidup ini” tidak sekadar diberikan makna intelektual, atau “keyakinan” seperti yang biasa diistilahkan. Ini adalah masalah mengetahui atau menemukan identitas sejati diri sendiri. Mengikut dan menyembah YAH Rastafari berarti menemukan, menyebarkan dan “menempuh” jalan di mana orang telah dilahirkan dengan sebenarnya.
Agama ini sulit dikategorikan, karena Rastafari bukanlah suatu organisasi yang tersentralisasi. Masing-masing Rastafari mencari kebenaran untuk dirinya sendiri, sehingga akibatnya terdapat berbagai keyakinan yang masuk ke bawah payung besar bernama Rastafari.

Afrosentrisme

Secara sosial, Rastafari adalah suatu tanggapan terhadap penyangkalan rasialis terhadap orang-orang kulit hitam sebagaimana yang dialami di Jamaika, ketika pada tahun 1930-an orang-orang kulit hitam berada pada tingkat tatanan sosial paling bawah, sementara orang-orang kulit putih dan agama mereka (umumnya Kristen) berada di paling atas. Anjuran Marcus Garvey agar orang-orang kulit hitam bangga akan diri mereka dan warnisan mereka mengilhami kaum Rasta untuk memeluk segala sesuatu yang bersifat Afrika. Mereka mengajarkan bahwa mereka dicuci otak ketika berada dalam tawanan untuk menyangkal segala sesuatu yang berkaitan dengan kulit hitam dan Afrika. Mereka membalikkan citra rasialis mereka dan menganggapnya primitif dan langsung dari hutan dan malah merangkulnya — meskipun itu berlawanan — dan menjadikan konsep-konsep ini sebagai bagian dari budaya Afrika yang mereka anggap telah dicuri dari mereka ketika mereka dibawa dari Afrika di kapal-kapal budak. Dekat dengan alam dan dengan savana Afrika serta singa-singanya, di dalam roh, kalau bukan secara badani, adalah gagasan sentral mereka tentang budaya Afrika.
Hidup dekat dengan alam dan menjadi bagian dari alam dianggap sebagai sifat Afrika. Pendekatan Afrika terhadap “hidup dekat alam” ini terlihat dalam rambut gimbal, ganja (marijuana), makanan ital, dan dalam segala aspek kehidupan Rasa. Mereka membenci pendekatan (atau, seperti yang mereka pahami, non-pendekatan) modern terhadap kehidupan karena dianggap tidak alamiah dan terlalu objektif dan menolak subjektivitas. Kaum Rasta mengatakan bahwa para ilmuawn berusaha menemukan bagaimana dunia kelihatan dari luar, sementara kaum Rasa mendekatinya dengan melihat kehidupan dari dalam ke luar. Individu mendapatkan kedudukan sangat penting dalam Rastafari, dan setiap Rasta harus mencari kebenaran untuk dirinya sendiri.
Identifikasi Afrosentris penting lainnya adalah warna merah, emas, dan hijau, dari warna bendera Ethiopia. Warna-warna ini adalah lambang gerakan Rastafari, dan kesetiaan kaum Rasa terhadap Haile Selassie, Ethiopia, dan Africa dan bukan kepada negara modern manapun di mana mereka kebetulan tinggal. Warna-warna ini seringkali terlihat dalam pakaian dan hiasan-hiasan lainnya. Merah melambangkan darah para martir, hijau melambangkan tetumbuhan Afrika, sementara emas melambangkan kekayaan dan kemakmuran yang ditawarkan Afrika. (Sebaliknya, sejumlah pakar Ethiopia menyatakan bahwa warna-warna ini berasal dari pepatah lama y ang mengatakan bahwa sabuk Perawan Maria adalah pelangi, dan bahwa warna merah, emas, dan hijau melambangkan semuanya ini.)
Banyak dari pemeluk Rastafari berusaha mempelajari bahasa Amharik, yang mereka anggap sebagai bahasa aslinya, karena inilah bahasa yang dipergunakan Haile Selassie I, dan untuk mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang Ethiopia—meskipun pada praktiknya kebanyakan pemeluk Rasta tetap berbahasa Inggris atau bahasa kelahiran mereka. Ada pula lagu-lagu reggae yang ditulis dalam bahasa Amharik.

Haile Selassie dan Alkitab

Sebuah kepercayaan yang mempersatukan banyak pemeluk Rastafari adalah bahwa Ras, sebuah gelar kebangsawanan Amharik, sepadan dengan Duke; juga berarti “Kepala“) Tafari Makonnen, yang dinobatkan sebagai Haile Selassie I, Kaisar Ethiopia pada 2 November 1930, adalah Allah yang hidup dan menjelma manusia, yang disebut Yah, yaitu Mesias kulit hitam yang akan memimpin bangsa-bangsa yang berasal dari Afrika di seluruh dunia untuk masuk ke tanah perjanjian yang penuh dengan emansipasi dan keadilan ilahi, meskipun sebagian mansions tidak menerjemahkannya secara harafiah. Ini sebagian disebabkan oleh gelarnya Raja di atas segala raja, Tuhan dari segala tuhan dan Singa Penakluk dari Suku Yehuda. Gelar-gelar ini sesuai dengan Mesias yang disebutkan dalam Kitab Wahyu. Namun, menurut tradisi Ethiopia, gelar-gelar ini diberikan kepada semua kaisar dari garis keturunan Salomo sejak tahun 980 SM — jauh sebelum Kitab Wahyu ditulis pada sekitar 97 M. Menurut beberapa tradisi, Haile Selassie adalah raja Ethiopia ke-225 dalam sebuah garis keturunan yang tidak pernah terputus sejak Raja Salomo di masa Alkitab dan Ratu Syeba. Mazmur 87:4-6 juga dipahami meramalkan penobatan Haile Selassie I.
Pada abad ke-10 SM, Dinasti Salomo di Ethiopia didirikan oleh Menelik I, anak Salomo dan Ratu Syeba, yang pernah mengunjungi Salomo di Israel. 1 Raja-raja 10:13 mengklaim “Raja Salomo memberikan kepada ratu negeri Syeba segala yang dikehendakinya dan yang dimintanya, selain apa yang telah diberikannya kepadanya sebagaimana layak bagi raja Salomo. Lalu ratu itu berangkat pulang ke negerinya bersama-sama dengan pegawai-pegawainya.” Berdasarkan Kebra Negast, kaum Rasta menafsirkan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa Ratu Syeba hamil dengan anak Salom, dan dari sini mereka menyimpulkan bahwa orang-orang kulit hitam adalah keturunan sejati Israel, atau orang Yahudi. Orang-orang Yahudi hitam Beta Israel telah hidup di Ethiopia selama berabad-abad, terputus dari sisa Yudaisme. Keberadaan mereka membuat orang yakin dan mendorong para Rastafari perdana, dan mengesahkan keyakinan mereka bahwa Ethiopia adalah Sion.
Sebagian kaum Rasta yang ortodoks mengecam reggae sebagai suatu bentuk musik komersial dan “penjualan diri kepada Babel”. Bagi yang lainnya, ini adlaah “Musik Takhta YAH”.

Rastafari di masa kini

Pada akhir abad ke-20, kaum perempuan telah memainkan peranan yang lebih penting di dalam gerakan Rastafari. Pada tahun-tahun awalnya, kaum perempuan yang sedang datang bulan harus takluk kepada suami mereka dan dikeluarkan dari upacara-upacara keagamaan dan sosial. Pada umumnya, kaum perempuan merasakan kebebasan yang lebih besar sekarang dalam mengungkapkan diri mereka. Dengan demikian mereka pun menyumbangkan peranan yang lebih besar pula kepada agama ini.
Rastafari bukanlah sebuah agama yang sangat terorganisasi. Malah, sebagian kaum Rasta mengatakan bahwa itu sama sekali bukan “agama”, melainkan suatu “jalan Kehidupan”. Kebanyakan kaum Rasta tidak mengidentifikasikan dirinya dengan sekte atau denominasi apapun, meskipun ada tiga istana Rastafari yang terkemuka: Nyahbinghi, Bobo Ashanti dan Keduabelas Suku Israel. Dengan mengklaim Yah sebagai Yesus yang datang kedua kalinya, Rastafari adalah sebuah gerakan agama baru yang muncul dari agama Kristen, seperti halnya agama Krsiten muncul dari Yudaisme.
Pada 1996, gerakan Rastafari di seluruh dunia mendapatkan status ko

Selasa, 22 Februari 2011


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.            Latar Belakang
Perkembangan suatu wilayah tidak terlepas dari suatu permasalahan, sehingga dibutuhkan sebuah proses perencanaan yang komprehensif dan memiliki sebuah arahan yang sesuai. Seorang perencana harus dapat melakukan pekerjaan perencanaan yang terdiri dari tiga bagian proses. Pertama, dia akan melihat pada kondisi bagaimana perencanaan tersebut dilakukan. Kedua, ada proses substantif yang berakhir pada tersusunnya dokumen perencanaan. Ketiga, proses menjadikan dokumen perencanaan menjadi suatu tindakan yang nyata.
 Kampung Sabron Sari merupakan salah satu kampung yang berada di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, tepatnya di Distrik Sentani Barat.
Pemilihan Kampung Sabron Sari sebagai wilayah/tempat untuk melaksanakan studio proses perencanaan didasarkan oleh letak Kampung Sabron Sari yang strategis dan dilalui daratan rendah sampai pengunungan Cycloop. Selain itu Kampung Sabron Sari juga memiliki kondisi eksisting yang berupa didominasi oleh permukiman dan kegiatan komersial sehingga memungkinkan adanya potensi dan masalah yang dijadikan bahan perencanaan.
            Kampung Sabron Sari merupakan salah satu dari banyak kampung yang terdapat di Distrik Sentani Barat kampung Sabron Sari merupakan kampung yang terhitung padat penduduknya dan memiliki beberapa fasilitas yang layak pakai. Banyaknya aktivitas di kampung Sabron Sari berpengaruh pada ketersediaan sarana dan prasarana serta komposisi penutupan lahan (land use) yang beragam terdiri dari perkebunan, permukiman, perkantoran, kegiatan komersil, dan kegiatan pendidikan. Selain itu, kampung Sabron Sari memiliki fasilitas yang cukup lengkap dari pada kampung-kampung lain di distrik Sentani Barat. Akan tetapi, potensi tersebut tidak begitu berkembang secara baik dan terstruktur. Justru permasalahan yang semakin bertambah. Permasalahan tersebut menyangkut dari segala aspek, baik aspek sosial hingga menyangkut aspek infrastruktur. Permasalahan yang kerap kali melanda seperti banjir dan kerawanan sosial masih belum dapat tertangani secara optimal. Hal inilah yang menjadikan Kampung Sabron Sari menjadi obyek perlu digali lebih dalam bagaimana karakteristik dan dianalisis hingga nantinya ditemukan rekomendasi tindak lanjut yang tepat guna menimimalisir segala permasalahan dan tidak lanjut hingga di masa yang akan datang.
1.2.            Perumusan Masalah
            Beranjak dari latar belakang dapat menegahkan perumusan masalah,  yaitu :
a.          Mengkaji seluruh utilitas yang ada di kampung Sabron Sari yang menjadi kampung teladan bagi kampung lain di Distrik Sentani Barat yaitu :
·      Sering terjadi pemadaman listrik dan sebagian penduduk yang belum mendapatkan penerangan,
·      Air bersih, didalam pelayanan air bersih belum maksimal karena sebagian penduduk menggunakan sumur bor dan air hujan sebagai sumber air bersih. Ketika terjadi kemarau panjang masyarakat sulit untuk menjadapatkan air bersih
·      Jalan raya, perlu diperhatikan jalan agar akses penyaluran hasil bumi bisa sampai kekota tepat waktu
b.         Kampung Sabron Sari dari segi fasilitas cukup memadai diaantaranya sebagai berikut:
·     Kesehatan, peningkatan pelayanan kesehatan yaitu adanya posyandu untuk mengatasi masalah kesehatan, status gizi pada anak dan ibu
·     Pendidikan, beasiswa dan bantuan perlengkapan sekolah dari pemerintah yang anak-anak yang kurang mampu terutama anak yang tinggal di Pantih Asuhan Laskar Kristus supaya bisa meraasakan pendidikan yang lebih tinggi
·     Perumahan, banyak masyarakat asli papua yang tinggal di tempat yang tidak layak huni 
c.         Dilihat dari sekror ekonomi yaitu
·      Pertanian, perlu adanya penyuluh pertanian
·      Perkebunan, kurangnya perawatan dan harus di tingkatkan
·      Perikanan, peternakan juga harus diperhatikan
d.        Sosial budaya
·      Masyarakat kampung sabron sari adalah masyarakat heterogen dengan   latarbelakang suku, ras, dan bahasa yang berbeda-beda
1.3.            Tujuan dan Sasaran
Adapun tujuan dari kegiatan ini meliputi :
1.          Mengidentifikasi tentang karateristik suatu kampung meliputi data dasar, tingkat permasalahan dan perkembangan yang dihadapi dalam rangkah pengembangan kampung
2.         Menganalisa setiap sektor yang ada sebagai patokan, yang dapat meningkatkan kesejaterahan mereka sehingga perlu untuk ditingkatkan dibidang yang menjadi prioritas utamanya dan menjadi bagian dari perencanaan pengembangan kampong



Sedangkan sasaran umum pelaksanaan kegiatan studio proses perencanaan adalah: wilayah distrik Sentani Barat kampung Sabron Sari yang meliputi 3 (tiga) Rukun Warga (RW) dan 8 (delapan) Rukun Tetangga (RT) yang ingin di capai antara lain adalah:
·           Perencanaan pembangunan serta pelaksanaannya dapat terarah dengan baik
·           Pemanfaatan tata ruang demi terwujudnya keserasian dan keseimbangan serta kesejateraan kampung Sabron Sari
1.4.            Ruang Lingkup
        Dalam proses studio perencanaan ini ruang lingkup di bagi dalam 2 (dua) bagian yaitu :
1.4.1.         Ruang Lingkup Wilayah
              Kampung Sabron Sari terletak di Kabupaten Jayapura Distrik Sentani Barat dengan batas wilayah sebelah barat berbatasan dengan Kampung Dosay, Sebelah Timur berbatasan dengan Kampung Bambar, Sebelah Utara berbatasan dengan hutan lindung, dan Sebelah Selatan berbatasan dengan Kampung Sabron Yaru. Dengan luas wilayah ± 6,25 km2 
1.4.2.         Ruang Lingkup Substansi
Dalam ruang lingkup ini, subtansi yang digunakan berhubungan dengan identifikasi potensi kampung yang ada, dimana berhubungan langsung dengan arahan pengembangan Kampung diantaranya sebagai berikut :
a)               Perencanaan Fisik
Perencanaan fisik termasuk perencanaan dalam tata ruang yang lebih luas sebagai perencanaan berjangka yaitu sarana dan prasarana yang menjadi acuan perkembangan dan beroriantaasi dan bermotivasi pada suatu wilayah
b)               Perencanaan social
Perencanaan sosial adalah perencanan yang mengacu pada aktivitas kehidupan masyarakat didalam menjalin kebersamaan dan keakraban di setiap warga dalam suatu kampung menuju warga yang aman, makmur, dan sejaterah
c)                Perencanaan Ekonomi
Perencanaan yang beroreantasi pada ekonomi pembangun menuju kearah perkembangan perekonomian. Perencanaan ekonomi dapat berupa pendapatan berkapita dalam masyarakat kampong dengan mengoptimalkan potensi yang ada.

1.5.            Sistematika Penulisan
Dalam laporan pendahuluan ini terdiri 1 (satu) bab, pembahasan mengulas dengan masing-masing tambahan sub pokok bahasan adalah sebagai berikut :
Bab I. Merupakan Bab Pendahuluan, yang berisikan :
1.1.
Latar balakang
1.5.
Metodologi
1.2.
Perumusan Masalah
1.6.
Sistematika Penulisan
1.3.
Tujuan dan Sasaran
1.7.
Tahapan Pelaksanaan
1.4.
Ruang Lingkup
1.8.
Organisasi Pelaksanaan

1.4.1. Ruang Lingkup Wilayah



1.4.2. Ruang Lingkup Substansi






Bab II Karateristik kota/wilayah
2.1
Kebijakan
2.2
Gambaran umum wilayah

2.2.1 Gambaran Umum Distrik Sentani Barat

2.2.2 Gambaran umum Kampung Sabron Sari

Bab III Analisa
3.1
Analisa Fasilitas Kampung Sabron Sari

3.1.1
Fasilitas Pendidikan

3.1.2
Fasilitas Pemerintahan

3.1.3
Fasilitas Kesehatan

3.1.4
Fasilitas Peribadatan

3.1.5
Fasilitas Perekonomian

3.1.6
Fasilitas Perumahan
3.2
Analisa utilitas Kampung

3.1
Jaringan Listrik

3.2
Jaringan Air bersih

3.3
Sarana dan Prasarana Transportasi

3.4
Persampahan
3.3
Analisis Kesesuaian Lahan
3.4
Ananlisis Kependudukan
Bab IV Penutup
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

BAB II
TINJAUAN  PUSTAKA
2.1              Perumahan dan Permukiman
Menenai batasan perumahan dan permukiman, sesuai UU Nomor 4 Tahun 1992 tentan Perumahan dan Permukiman dijelaskan bahwa perumahan merupakan sekelompok rumah, sedangkan permukiman adalah kelompok rumah ditambah fasilitas.
Prinsip dasar pembangunan perumahan pada hakekatnya bertolak dari pemikiran bahwa pembagunan perumahan didasarkan atas prakarsa dari swadaya masyarakat sendiri. Peranan pemerintah terutama diarahkan pada peningkatan kemampuan masyarakat dan penciptaan iklim yang mendorong tumbuhnya prakarsa dan swadaya masyarakat serta pada penyediaan prasarana dan sarana.
Yang menentukan harga permukiman, menurut Hedonis, adalah berbagai komponen masing-masing memiliki harga tersendiri. Dengan demikian harga pasar permukiman adalah jumlah harga komponen. Harga akan berbeda tergantung pada perbedaan lokasi ( jarak ke tempat pekerjaan ), banyaknya kamar tidur dan umur atap. Informasi yang dibutuhkan adalah :
1.      Harga dasar, rata-rata rumah memiliki 3 kamar tidur dengan atap berumur enam tahun, terletak 10 km dari pusat kota dan nilai ± 20.000.000,-.
2.      Harga lokasi, harga rumah berkurang dengan Rp. 1. 000.000 tiap 2 km jauhnya dari pusat kota.
3.      Harga rumah naik dengan makin banyaknya kamar sebesar Rp. 8.000.000,-
4.      Harga atap, harga rumah berkurang dengan Rp. 100.000,- dengan makin tuanya ( tahun ) atap.3) 
Permasalahan pengadaan perumahaan dapat dilihat dari 2 ( dua ) segi yaitu:
1.      Sisi   permintaan   perumahan   meliputi   tingkat   penghasilan, pertambahan penduduk kota dan biaya pembangunan rumah.
2.      Sisi penawaran perumahan meliputi kemampuan developer untuk membangun rumah, teknologi pembangunan rumah dan ketersediaan lahan untuk membangun rumah. 
2.2              Perumahan dan Kesehatan Lingkungan
Sehubungan dengan pembangunan perumahan, The Commite On The Hygene of The American Publik Healt Asociation telah menyarankan persyaratan pokok suatu rumah sehat adalah sebagai berikut:
a.       Harus memenuhi kebutuhan fisiologis, seperti: keadaan suhu, pencahayaan, perlidungan terhadap kebisingan, ventilasi yang baik, serta tersedianya ruangan untuk latihan dan bermain anak – anak.
b.      Harus memenuhi kebutuhan psikologis, seperti: jaminan privacy yang cukup, kesempatan dan kebebasan untuk kehidupan keluarga secara normal, hubungan yang serasi antara orang tua dan anak, terpenuhinya persyaratan sopan santun pergaulan.
c.       Dapat memberikan perlindungan terhadap penularan penyakit dan pencemaran, meliputi: tersedianya penyediaan air yang memenuhi persyaratan, adanya fasilitas pembuangan air kotoran.
d.      Dapat memberikan perlindungan atau pencegahan terhadap bahaya kebakaran dalam rumah, meliputi: kontruksi yang kuat dapat menghindari bahaya kebakaran.



2.3              Perencanaan Fisik
Analisa kawasan dan fungsi kegiatan, merupakan analisa dari penggabungan berbagai aspek fisik dasar. Analisa ini dikenal sebagai Analisa Superimpose, yang telah dikenal sebagai salah satu pendekatan perencanaan fisik klasik (Keeble, 1952) yang kemudian dikembangkan penerapannya dalam memberikan pembobotan terhadap masing – masing analisa, dalam analisis superimpose tersebut meliputi keadaan ttopografi, leadaan geologi dan kadaan iklim.
Penggunaan analisa superimpose ini adalah untuk menentukan daerah yang baik untuk pembangunan, dimana factor penentu yang dipertimbangkan aspek fisik lingkungan guna memperoleh lahan yang sesuai dengan kebutuhan perencanaan.7
1.3.1.      Topografi
Yang dimaksud dengan keadaan topografi adalah keadaan buni yang ada dipermukaan atau struktur – struktur tanah yang ada seperti gunung, lembah, sungai maupun daerah datar yang ada. Maka apabila lahan tersebut berbukit – bukit maka daerah tersebut menjadi penghambat untuk pembangunan begitu juga dengan lembah dan sungai maka susah untuk dikembangkan dalam pembangunan yang akan diprediksikan kedepan. Pada dasarnya perubahan lahan untuk pembangunan fisik kota perlu didukung dengan keadaan topografi yang baik yaitu tentang relief apabila daerah landai maka kegiatan – kegiatan akan terlaksana diatasnya, dan apabila semakin curam maka perkembangan akan lambat sesuai dengan keadaan yang ada.
Sehubungan dengan perkembangannya lahan untuk mendukung berbagai aktivitas manusia, ada beberapa klasifikasi kemiringan lereng menurut Direktur Jendral Kehutanan, Departemen Pertanian, klasifikasi kemiringan lahan terbagi 5 (lima) kelas, yaitu:
1.      Datar kurang dari 8%, kemiringan ini akan dapat mendukung penggunaan lahan yang paling intensif segala macam usaha pertanian. Landai/berombak 8 – 15%, masih dapat mendukung penggunaan lahan untuk permukiman dan pertanian tetapi memerlukan pengelolaan yang hati – hati.
2.      Agak curam/berbukit 15 – 25%, usaha pengembangan terbatas banyak investasi yang diperlukan.
3.      Curam/bergunung 25 – 45%, vegetasi penutup sangat diperlukan, karena sangat mudah dipengaruhi erosi.
4.      Sangat curam/bergunung diatas 45%, kemungkinan untuk longsor, baik untuk hutan  lindung.
1.3.2.      Geologi
Fisik tanah dilihat dari lapisan yang ada pada tanah tersebut baik itu jenis tanah, geologi dan kedalaman keras tanah yaitu partikel – partikel yang mempunyai kekuatan untuk menahan beban dari atas, dan ada bermacam jenis tanah dan batuan yang lunak timbul kendalanya. Maka hal diatas harus mempunyai rencana pembangunan fisik diatas tanah yang kuat dan kokoh untuk menjaga berbagai kendala – kendala yang akan dihadapi nantinya baik longsor atau erosi dan sebagainya.
a.      Jenis Tanah.
1.      Ponsolik Coklat Kelabu.
Jenis tanah ini berkembang dengan iklim curah hujan diatas 1.500mm/tahun tanpa bulan kering, terletak pada topografi datar, bergelombang, landai dan berbukit pada elevansi 10 – 2000m dpl, berwarna kelabu, kehitam – hitaman, coklat tua higga kekuning – kuningan.
2.      Onsolik Merah Kuning.
Jenis tanah ini terbentuk pada iklim basah dengan curah hujan 2.500 - 3.500mm/tahun tanpa bulan kering. Terletak pada topografi bergelombang sampai berbukit elevansi 20 – 100m dpl, solimnya agak tebal (1 - 2m) dengan warna merah hingga kuning, keasaman tanahnya sangat asam hingga asam (pll 3,5 - 5,0) sangat peka terhadap erosi dan mempunyai tingkat kesuburan rendah.
3.      Mediteran.
Jenis tanah ini terbentuk pada iklim basah dengan cutah hujan 800 - 2.500mm/tahun tanpa bulan kering. Tersebar pada elevansi 0 – 400m dpl, solim agak tebal (1 - 2m), keasaman tanahnya agak asam sampai netral (pH 6,0 - 7,5), kepekaan terhadap erosi sedang hingga besar.
4.      Organosol/Alluvial.
Pembentukan jenis tanah ini tidak dipengaruhi oleh iklim, terletak pada topografi datar sampai gelombang, warna tanah kelabu tua atau hitam, keasaman tanahnya sangat asam hingga asam (pH 3,5 - 5).
5.      Latosol.
Jenis tanah ini terbentuk pada iklim basah dengan curah hujan 2.700 - 7.000mm/tahun tanpa bulan kering kurang dari 3 bulan. Terletak pada topografi bergelombang, berbukit dan bergunung. Elevansi 10 - 1.000m dpl, solumnya dalam (1,5 - 10m) dengan warna coklat hingga kuning, keasaman tanahnya asam hingga agak asam (pH 4,5 - 6,5), kepekaan terhadap erosi kecil.
Dilihat dari jenis tanah menurut kepekaannya terhadap erosi, Departemen Pertanian (1981), membagi jenis tanah kedalam 5 (lima) kelas sebagai berukut:
Tabel 2.1
Kelas Tanah Menurut Kepekaannya Terhadap Erosi
Kelas Tanah
Jenis Tanah
Tingkat Kepekaan
1
                                   2        
3
1
Alluvial, Tanah, Glei, Planosol, Hidrowolf kelabu, Laterit air tanah
Tidak peka erosi
2
Latosol
Agak peka erosi
3
Brown forest soil, Non calcic, Mediteran
Kurang peka erosi
4
Adosol, Laterit, Grumusaol, Podsol, Pedsolik
Peka erosi
5
Regosol, Litosol, Organosol, Renzina
Sangat peka erosi
Sumber: Kepmen Pertanian Nomor 837.
b.      Kedalaman Keras Tanah.
Kedalaman efektif tanah menurut Departemen Pertanahan Nasional terbagi menjadi empat bagian yaitu:
-          Kedalaman efektif lebih dari 90 cm2
-          Kedalaman efektif antara 60 – 90 cm2
-          Kedalaman efektif antara 30 – 60 cm2
-          Kedalaman efektif kurang dari 30 cm2
Semakin tebal kedalaman efektif tanahnya, pada umumya semakin subur untuk pertanian.
Sedangkan, Anita Rosida Siregar dalam tesisnya  mengklasifikasikan kemampuan tanah untuk perkembangan kota dalam beberapa kelas, yaitu:
-          Tanah kelas I, adalah tanah yang cocok untuk pengembangan kota. Mudah dimanfaatkan atau dibangun demi ongkos rendah dan relatif tidak merusak keseimbangan lingkungan.
-          Tanah kelas II, adalah tanah yang pada dasarnya untuk pengembangan kota, meskipun terdapat satu atau beberapa sifat tanah yang tidak mendukung pengembangan kegiatan tersebut. Pengaturan dan metode pemanfaatan ruang sangat selektif dan hati – hati sehingga menaikkan biaya pembangunan untuk memperkecil pengaruh terhadap lingkungan.
-          Tanah Kelas III, tanah yang tidak cocok untuk pengembangan kegiatan perkotaan. Dibutuhkan biaya yang tinggi dan perlakuan tertentu untuk memanfaatkan lahan tersebut. Resiko kerusakan lingkungan lebih besar.
-          Tanah kelas IV, adalah tanah yang tidak mungkin dikembangkan kecuali dengan biaya yang  sangat besar  dan  resiko  kerusakan  lingkungan  jauh  lebih  besar.

2.4              Standar  Untuk  Perencanaan  Sarana  Lingkungan  Permukiman 7
2.4.1.      Kependudukan
Dalam perencanaan pembangunan, data kependudukan memegang peranan yang penting. Karena makin lengkap dan akurat data kependudukan yang tersedia makin mudah dalam merencanakan pembangunan. Untuk dapat memahami kependudukan di suatu daerah maka perlu didalami kajian demografi, dengan memakai beberapa teori sebagai berikut:
a.      Laju  Pertumbuhan  Penduduk.
Perhitungan laju pertumbuhan penduduk biasanya didasarkan pada angka rata – rata selama periode tertentu, perhitungan disamping untuk mengetahui perkembangan dimaksud adalah perbandingan ekonomi. Semakin rendah laju pertumbuhan penduduk suatu wilayah semakin menguntungkan dalam rangka meningkatkan kemakmuran rakyat. Prinsip ini bertolak belakang dengan laju pertumbuhan ekonomi yang justru diusahakan semakin tinggi (Widodo, 1990). Cara perhitungan laju pertumbuhan penduduk menurut widodo 1990, dapat dilakukan dengan rumus yaitu Geometrik (Geometrik Grown).
b.      Rasio.
Rasio adalah perbandingan dua perangkat, yang dinyatakan dalam satuan tertentu, misalnya jumlah laki – laki dinyatakan dengan symbol a dan jumlah perempuan dengan symbol b, jadi rasio jenis kelamin (sex ratio = SR).
c.       Kepadatan Penduduk.
Menurut mantra (2000), kepadatan penduduk (KP) adalah jumlah penduduk suatu wilayah dibagi dengan luas wilayah.
2.4.1.      Fisik Persyaratan Dasar
Kawasan perumahan harus memenuhi persyaratan – persyaratan sebagai berikut:
a.       Aksesibilitas, yaitu kemungkinan pencapaian dari dan kekawasan, aksesibilitas dalam kenyataannya berwujud jalan dan transportasi.
b.      Kompatibilitas, yaitu ketersediaan dan keterpaduan antara kawasan yang menjadi lingkungannya.
c.       Fleksibilitas, yaitu kemungkinan pertumbuhan fisik/pemekaran kawasan perumahan dikaitkan dengan kondisi fisik lingkungan dan keterpaduan prasarana.
e.       Ekologi, yaitu keterpaduan antara tatanan alam yang mewadahinya.
Untuk dapat memenuhi syarat – syarat tersebut diatas, maka diperlukan informasi tentang:
a.       Topografi.
Yaitu kondisi fisik permukaan tanah baik bentuk, karakter, tumbuhan, aliran sungai, konture tanah dan lain – lain yang sangat berpengaruh terhadap transportasi, sistem sanitasi dan pola tata ruang.
b.      Sumber Alam.
Yaitu potensi atau kekayaan yang dapat mendukung penghidupan dan kehidupan, sumber daya alam ini disamping sebagai potensi ekonomi juga dapat memberikan mata pencaharian bagi penghuninya.
c.       Kondisi Fisik Alam.
Yaitu kondisi fisik tanah dimana kawasan perumahan akan dibangun. Hal – hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan adalah :
d.      Tidak mengandung gas beracun yang mematikan.
e.       Tidak tergenang air.
f.       Memungkinkan untuk membangun sarana dan prasarana.
g.      Lokasi (Letak Geografi).
Posisi kawasan perumahan terhadap kawasan – kawasan lain.
h.      Tata Guna Tanah.
Yaitu pola tata guna tanah disekeliling kawasan perumahan.
i.        Nilai dan Harga Barang.
Yaitu suatu potensi ekonomi dari kawasan perumahan.
j.        Iklim.
Yaitu keadaan cuaca, hal – hal yang perlu diperhatikan adalah:
k.      Arah jalannya matahari.
l.        Lamanya penyinaran matahari.
m.    Temperatur rata – rata.
n.      Kelembaban.
o.      Curah hujan rata – rata.
p.      Musim.
q.      Bencana Alam.
Yaitu segala ancaman bahaya oleh alam seperti angin puyuh, gempa bumi dan banjir.
r.        Vegetasi.
Yaitu segala macam tumbuhan yang ada dan mungkin tumbuh dikawasan yang dimaksud. Hal – hal yang perlu diperhatikan:
s.       Jenis pohon atau tumbuhan.
t.        Pengaruh terhadap lingkungan.
u.      Masa tumbuhan dan usia yang dicapai.
2.4.2.      Perekonomian
Menurut teori pusat kegiatan gand (haris dan ullman), kebanyakan kota tidak tumbuh dalam ekspresi keruangan yang sederhana yang hanya ditandai oleh suatu pusat kegiatan saja, akan tetapi terbentuk sebagai suatu produk perkembangan dan integritas yang berlanju terus menerus dari sejumlah pusa-pusat kegiatan yang terpisah satu sama lain dalam suatu sistem kota.
2.4.3.      Prasarana
Adalah bangunan – bangunan yang dibutuhkan dalam sistem pelayanan lingkungan yang diselenggarakan oleh instansi, pemerintah terdiri dari:
Menurut Undang - Undang Nomor 13 Tahun 1998 dan Peraturan Pemerintahan Nomor 26 Tahun 1985, jalan adalah prasarana penghubung darat dalam bentuk apapun, meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya diperuntukkan bagi lalulintas. Jalan mempunyai sistem jaringan jalan yang mengikat dan menghubungkan pusat – pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam suatu hubungan hirarki. Menurut pelayanan jasa distribusi, sistem jaringan jalan  dibedakan atas dua sistem yaitu jaringan jalan primer dan jaringan jalan sekunder. Adapun menurut hirarkinya jalan dibedakan atas 4 (empat) yaitu:
1.      Jalan Raya Utama (arterial roads) adalah jalan – jalan raya yang sedikit mempunyai jalan keluar masuk ke daerah – daerah dan kota – kota satu dan yang lainnya yang juga melewati bagian luas dari kota. Jalur jalan utama terdiri dari 2 saluran, tiap saluran mempunyai 3 – 4 jalur jalan kaki dan jalur sepeda, jumlah lebar jalan 40m.
2.      Jalan Utama (mayor roads) adalah jalan – jalan didalam batas kota, yang sedikit sekali mempunyai jalan keluar masuk ke kanan dan ke kirinya dan menyalurkan lalulintas campuran yang berat. Terdiri dari 2 saluran, tiap saluran mempunyai jalan kaki dan jalur sepeda dengan jumlah lebar jalan 20m.
3.      Jalan Antar Lingkungan (minor roads) adalah jalan – jalan yang mempunyai  hubungan – hubungan yang terbatas dengan pekarangan – pekarangan kanan kirinya, menyalurkan lalulintas dari berbagai bagian kota, menghubungkan bagian – bagian itu dengan jalan lainnya dan dengan jalan – jalan utama di dalam kota. Terdiri dari 1 saluran mempunyai 1 – 3 jalur jalan kaki dan jalur sepeda jumlah lebar jalan 10m2.
4.      Jalan Lingkungan (streetrs) adalah jalan – jalan yang hanya melayani suatu lingkungan tertentu misalnya hanya melayani lingkungan tempat tinggal, yang menghubungkan dengan jaringan jalan utama dan mempunyai hubungan langsung dengan pekarangan – pekarangan atau bangunan di kanan kirinya. Jumlah badan jalan 3,5m2 tidak diperuntukkan kendaraan roda 3 (tiga) atau lebih.
2.4.4.      Fasilitas
Fasilitas umum berdasarkan standar konstruksi bangunan indonesi yang sudah ditetapkan dengan KEPMENT PU Nomor: 20/KPTS/1986 dan Pedoman Perencanaan Permukiman Kota yang diterbitkan oleh DPU, Dirjen Cipta karya Nomor: UDC 711.5 (901)(07), didalamnya diantara lain mengatur tentang jenis ketentuan faslitas adalah:
1.      Fsilitas Pendidikan
·         Taman Kanak-kanak (TK), membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 1.200 jiwa dengan luas lahan 1.000 m2
·         Sekolah Dasar (SD), membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 3.600 jiwa dengan luas lahan 1.600 m2.
·         Sekolah Menengah Pertama (SMP), membutuhkan penduduk  pendukung sebanyak 4.800 jiwa dengn luas lahan 5.400 m2.
·         Sekolah Menengah Umum (SMU), membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 1.200 jiwa dengan luas lahan 5.400 m2.
2.      Fasilitas Kesehatan
·         Praktek dokter, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 5.000 jiwa dengan luas lahan 150 m2.
·         Balai pengobatan, membutukan penduduk pendukung sebanyak 3.000 jiwa dengan luas lahan 300 m2.
·         BKIA / RS Bersalin, mebutuhkan penduduk pendukung sebanyak 10.000 jiwa dengan luas lahan 1.600 m2.
·         Apotik, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 10.000 jiwa dengan luas lahan 350 m2.
·         Puskesmas, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 30.000 jiwa dengan luas lahan 1.200 m2.
3.      Fasilitas Peribadatan
·         Gereja Besar, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 30.000 jiwa dengan luas lahan 3.000 m2.
·         Gereja Lingkungan, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 15.000 jiwa dengan luas lahan 1.500 m2.
·         Masjid Besar, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 15.000 jiwa dengan luas lahan 3.000 m2.
·         Masjid Lingkungan, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 2.500 jiwa dengan luas lahan 1.500 m2.
4.      Fasilitas Perdagangan dan Jasa
·         Warung/kios, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 250 jiwa dengan luas lahan 100 m2.
·         Toko, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 2.500 jiwa dengan luas lahan 1.200 m2.
·         Pasar Umum, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 12.500 jiwa dengan luas lahan 1.000 m2.
·         Terminal, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 12.500 jiwa dengan luas lahan 1.000 m2.
·         Penginapan, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 10.000 jiwa dengan luas lahan 2.500 m2.
5.      Fasilitas Pemerintahan
·         Balai Pertemuan, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 2.500 jiwa dengan luas lahan 300 m2.
·         Kantor Pos Pembantu, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 12.500 jiwa dengan luas lahan 1.000 m2.
·         Pos Pemadam Kebakaran, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 10.000 jiwa dengan luas lahan 200 m2.
·         Wapostel, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 10.000 jiwa dengan luas lahan 500 m2.
·         Gedung Serbaguna, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 30.000 jiwa dengan luas lahan 3.000 m2.
6.      Fasilitas Olahraga dan Ruang terbuka hijau
·         Taman dan Tempat Mini, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 250 jiwa dengan luas lahan 250 m2.
·         Taman Kota, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 2.500 jiwa dengan luas lahan 9.000 m2.
·         Lapangan Olahraga, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 12.500 jiwa dengan luas lahan 9.000 m2.
·         Kuburan, membutuhkan penduduk pendukung sebanyak 10.000 jiwa.


2.4.5.      Utilitas
a.      Jaringan Air Bersih.
Menurut buku pedoman perencanaan lingkugan permukiman kota yang dikeluarkan oleh Dirjen Cipta Karya, 1979 kebutuhan air minum sebagai patokan kebutuhan air minum di kota – kota di Indonesia adalah 150 ltr/og/hari, dengan syarat – syarat sebagai berikut:
1.      Syarat fisik: air minum jernih, tidak berbau, tidak berwarna, tidak ada rasa.
2.      Syarat kimia: tidak boleh ada zat – zat kimia yang merugikan tubuh.
3.      Syarat bakteriologi: tidak boleh menyebabkan sakit perut/usus dan mempunyai kandungan kuman yang tahan asam perut.
Dalam penyediaan air bersih perlu didukung oleh prasarana meliputi berbagai komponen seperti bangunan pengambilan, pipa penyalur, transmisi, instalasi pengolahan air, jaringan pembawa, jaringan distribusi, reservoar serta kelengkapan lain yang mendukung penyediaan air bersih.
b.      Listrik.
Pada era modern sekarang ini merupakan kebutuhan pokok semua kegiatan memerlukan energi listrik, sumber energi listrik merupakan bagian dari satu sistem besar. Menurut muniardi (2000) harus memperhatikan ketentuan – ketentuan sebagai berikut:
1.      Setiap kediaman harus mendapat daya listrik dalam batas tertentu minimum untuk keperluan penerangan.
2.      Dapat dilaksanakan sesuai dengan kecocokan lingkungan.


3.      Sumber daya listrik.
4.      Jarak jaringan listrik.
5.      Penerangan jalan umum.
Beberapa factor – factor yang harus diperhatikan dalam perencanaan jaringan listrik yaitu:
1.      Laju dan distribusi pertambahan penduduk.
2.      Perkiraan besar dan distribusi investasi.
3.      Arah kebijakan nasional kelistrikan.
c.       Jaringan Telepon.
Merupakan salah satu system yang mempunyai pola divergen (menyebar), jumlah dan jangkauan fasilitas ini ditentukan oleh kapasitas dari induk jaringan yang dikenal dengan istilah STO (Sentral Telepon Otomat), semakin besar kapasitas STO semakin banyak konsumen yang dapat dilayani. System telepon otomat pelayanan baru didistribusikan pada instansi box utama (Main Box atau MB) ke box kedua (Second Box atau SB) kemudian pelanggan (Telepon Rumah Tangga atau TRT), telepon umum (TU) dan warung tunggu (WR).
d.      Drainase.
Dalam buku pedoman Perencanaan Lingkungan Permukiman Kota, asseinering atau drainase adalah membuang/mengolah kotoran cair, air bekas, air tanah dan air hujan sedemikian rupa sehingga mengganggu lingkungan. Yang termasuk drainase adalah:
1.      Pembuangan air bekas rumah tangga.
2.      Pembuangan kotoran tinja dan air bekas industri.
3.      Penyaluran air hujan.
Dengan demikian factor – factor yang harus diperhatikan  karena pengaruh yang besar terhadap drainase ini adalah:
1.      Jumlah penduduk.
2.      Tata cara hidup.
3.      Iklim.
4.      Topografi.
5.      Daya resap air.
Ukuran penampang dari saluran – saluran ini disesuaikan dengan banyaknya air yang dialirkan.
e.       Persampahan.
Menurut RTRW BWK-B Kabupaten Manokwari, rencana pengembangan pengolahan persampahan dengan pertimbangan:
1.      Kemudahan Operasional
2.      Tingkat kuantitas pelayanan
3.      Besarnya biaya pengolahan
4.      Kendala yang dihadapi
Dengan pengembangan kebijakan sebagai berikut:
·         Pengembnagan wilayah pelayanan terdekat dengan yang telah dilayani, dengan strategi:
1.      Pelayanan tempat-tempat umum 100%
2.      Pelayanan daerah permukiman 100% (untuk daerah dengan kepadatan >100jiwa/ha dan 80% untuk daerah dengan kepadatan 50-100jiwa/ha)
·         Tidak memberikan toleransi bagi pembuang sampah di sungai dan laut baik untuk penampungan sementara maupun pembuangan akhir.
2.5              Segmen Perumahan di Daerah Perkotaan 9
Kebijakan perumahan selain menggunakan dasar – dasar normatif, mulai memperhatian data empiris sesuai dengan perkembangan iptek dan informasi. Pengadaan kawasan siap bangun, lingkungan siap bangun dan kapling tanah matang, perlu dikaitkan dengan kebijakan perumahan lainnya yang saling mendukung, yaitu pengelolaan sumber daya lahan dan ruang, konsolidasi tanah, pengendalian harga tanah, pencegahan spekulasi tanah, bank dan peraturan perundang – undangan yang mendukung.
Untuk menjamin ketersediaan lahan yang cocok lokasi harga, diusulkan penerapan konsep pembangunan kawasan terpadu (integrated area development), sehingga tercapai perpaduan antara lingkungan perumahan (rumah sewa, rumah sangat sederhana, kapling siap bangun, rumah sederhana, rumah sedang/menengah dan asrama) yang mengacu pada ketetapan SK Tuga Menteri tentang pedoman pembangunan perumahan dengan lingkungan hunian yang berimbang (1:3:6). Perpaduan antara lingkungan perumahan, komersial, industri non-polusi, simpul jaringan transportasi, lapangan kerja, industri kerajinan, subsidi silang dan peningkatan efisiensi dan efektifitas biaya prasarana.
Kebutuhan rumah seharusnya dirinci atas jenis – jenis rumah berdasarkan kelompok pendapatan masyarakat. Penyediaan rumah juga harus memperhatikan aspek keterjangkauan dan lokasi. Dengan demikian harus disusun segmen pasar perumahan yang mengaitkan kelompok pendapatan, jenis rumah dan lokasi. Segmen perumahan dapat dibetuk berdasarkan kelompok pendapatan penduduk, lokasi, penyediaan rumah (formal dan informal). Dari unsur bentuk perumahan ini dapat dibuat matriks sebagaimana ditampilkan dibawah ini:

Tabel 2.2
Matriks Segmen Perumahan

No
Penghasilan
Penyediaan Rumah
Ukuran Type /KSB
Lokasi
Nilai (Rp)
Kategori
Formal
Informal
1
2
3
4
5
6
7
1.
150.000
Sangat rendah
ü   

54m,60m,72m
Pinggir Kota/Pusat Kota
2.
150.000 – 300.000
ü   

T12,T15,T18,T21
Pinggir Kota
3.
300.000 – 450.000
Rendah
ü   

T21
Pinggir Kota
4.
450.000 – 600.000
Sedang
ü   

T12,T27,T36 atau RS36
Pinggir Kota
5.
600.000 – 750.000

ü   
RS 36,T45 atau T54
Pinggir Kota/Pusat Kota
6.
750.000 – 900.000
Tinggi

ü   
T45,T54,T70
Pinggir Kota
7.
900.000 – 3.000.000

ü   
T54,T70
Pinggir Kota/Pusat Kota
8.
> 3.000.000
Sangat tinggi

ü   
T54,T70, Ruko
Bebas Memilih
        Sumber: hasil Tabulasi dari Penjelasan Komaruddin dalam menyusuri pembangunan perumahan, 1997











BAB III
METODE PENELITIAN
a.      Metode Pengumpulan Data
2.      Sumber Data
Dalam upaya memperoleh data, penulis tempuh dengan 2 (dua), yaitu:
a.       Pengumpulan Data Sekunder.
Teknik pengumpulan data ini yaitu melakukan kajian pustaka, pengambilan data pada instansi terkait (Data Instansional) yang memiliki relevansi dengan objek pengamatan.
b.      Pengumpulan Data Primer.
Teknik pengumpulan data primer adalah proses pengumpulan data dan informasi yang dilakukan dengan melakukan survey pada wilayah studi.
3.      Jenis Data
1.   Data kondisi fisik yang mencakup: Letak Geografi, Topografi, Hidrologi dan geologi.
2. Data social yang mencakup: Kependudukan dan Pola Penggunaan Lahan.
b.      Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penulisan ini adalah:
o   Metode Anlisa Kualitatif.
Analisa kualitatif dilakukan dalam bentuk uraian deskriptif yang digunakan untuk mengolah data – data atau informasi yang sifatnya kualitatif dengan cara menjelaskan dalam rangkaian kalimat yang menyangkut kualitas atau mutu, dalam bentuk pemaparan yang didukung dengan teori – teori yang berkenan dengan data dan analisa.

o   Metode Analisa Kuantitatif.
Analisa kuantitatif adalah metode yang digunakan untuk mengolah data yang sifatnya kuantitas (jumlah/angka) dengan menghitung melalui rumus yang format kajiannya dalam bentuk tabulasi, angka – angka statistic untuk menguatkan uraian deskriptif terhadap data – data yang telah diperoleh. Adapun perangkat analisis yang adalah sebagai berikut:
1.      Proyeksi Penduduk.
Proyeksi penduduk dimaksudkan untuk jumlah penduduk pada 10 tahun mendatang, dengan bantuan data tahun sebelumnnya, tahun analisis (tahun dasar). Analisis ini selanjutnya akan memperlihatkan luasan kebutuhan ruang untuk menampung penduduk dalam jangka waktu 5 tahun mendatang.10
Dalam proyeksi penduduk digunakan perhitungan Bunga Berganda:
Pt + n = Pt ( 1 + r ) n
Dimana:
Pt + n = Jumlah penduduk pada tahun ke n
Pt        = Jumlah penduduk tahun dasar
r          = Rata – rata prosentasi tambahan jumlah penduduk
   daerah yang diselidiki berdasarkan data masa
   lampau.










2.      Analisa Kebutuhan Perumahan.
Untuk analisi kebutuhan rumah, maka penulis menggunakan Surat Keputusan bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Perumahan Rakyat Tentang Pedoman Pembangunan Perumahan dengan lingkungan yang berimbang, yakni perbandingan pembangunan perumahan 6:3:1 dan pembagian luas lahan menurut tipe rumah berdasarkan data Perum Perumnas.
-     Tipe 45 dengan Koefisien Dasar Bengunan 65% bangunan dan 35% lantai pelayanan.
·         Luas kaveling                          : 72m² (9 x 8m²)
·         Luas lantai bangunan/unit       : 45m²
·         Luas lantai pelayanan/unit      : 27m²
-     Tipe 72 dengan Koefisien Dasar Bengunan 65% bangunan dan 35% lantai  pelayanan.
·         Luas kaveling                          : 90m² (9 x 8m²)
·   Luas lantai bangunan/unit       : 72m²
·         Luas lantai pelayanan/unit      : 18m²
-     Tipe 90 dengan Koefisien Dasar Bengunan 65% bangunan dan 35% lantai pelayanan.
·         Luas kaveling                          : 121m² (9 x 8m²)
·         Luas lantai bangunan/unit       : 90m²
·         Luas lantai pelayanan/unit      : 31m²






3.      Analisa Kebutuhan Sarana
Untuk menganalisa kebutuhan sarana, maka penulis menggunakan Pedoman Daftar Standar Departemen Pekerjaan Umum No. SNI 1733-1989-FISKBI-2.3.56.1987 Tentang Tata Cara Perencanaan Kawasam Perumaha




















BAB IV
GAMBARAN UMUM WILAYAH
4.1. Letak Geografis
Wilayah dapat dilihat sebagai suatu ruang pada permukan bumi. Pengertian permukan bumi adalah menunjuk pada tempat atau lokasi yang dilihat secara horizontal dan vertical menurut (Prof. Drs. Robinsin Tarigan, M.R.P 2005), Secara administrasi kampung Sabron Sari terletak di kabupaten Jayapura distrik Sentani Barat dengan luas wilayah + 6.25 km². dengan jumlah penduduk 872 jiwa dari 8 (delapan) rukun tetangga (KK) dan 3 (tiga) rukun warga (RW) yang ada.
Karakteristik yang dimiliki ini merupakan tantangan yang besar dalam pengembangan Kampung di masa yang akan datang, bukan hanya sejajar, tetapi juga mampu melebihi kemajuan kampung lain. Sisi lain, posisi letak wilayah tersebut dengan keragaman yang dimiliki harus tetap mendapat perhatian khusus dan menuntut kecermatan dalam perencanaan, pengelolaan kegiatan pembangunan dan masalah kemasyarakatan lainnya.
4.2. Tinjauan Aspek Dasar
Hasil studio proses kelompok 5 (lima) yang berlokasi di Kampung Sabron Sari Tahun Angkatan 2009 telah melakukan kegiatan di Kampung tersbut telah mengumpulkan data fisik dasar mapun fisik binaan yang meliputih :
4.2.1. Topografi
Kampung Sabron Sari berada di dataran rendah yang dikelilingi oleh pegunungan, dengan tekstur tanah hitam berpasir, dan dialiri oleh dua sungai merupakan daerah yang cocok untuk berkebun dan perbertani.
Yang disebut topografi tidak lain adalah bentuk lereng umumnya relatif bergelombang dengan kemiringan 2%-8% serta sangat curam dengan kemiringan 41%-65% mempunyai ketinggian aktual 0,5 m dpl -1500m dpl. Sebagian besar wilayah Kampung Sabron Sari berada pada kemiringan di atas >65%.
Bentuk topografi di Wilayah Kampung Sabron Sari sangat berfariasi dari datar hingga sangat curam, dengan ketinggian 0 – 1. 000 meter dpl. Bentang lahan curam hingga sangat curam terdapat disekitar hutan lindung Sycloop
Topografi yang curam ini gampang untuk terjadi erosi dan lonsor sehingga perlu diperioritaskan. Disamping itu topografi yang demikian juga menyulitkan upaya pembangunan serta membutuhkan kajian yang rekomendasinya untuk pembangunan kempung tersebut.
4.2.2. Struktur Tanah
Di kampung Sabron Sari terdapat tiga jenis tanah yaitu Allivial, potsolik merah kuning. Oleh sebab itu, dikampung sabron sari sangat cocok untuk lahannya dimanfaatkan di sektor Pertanian dan Perkebunan, dan inipun sudah dibuktikan oleh masyarakat setempat dengan menanam berbagai jenis tanaman dan hasilnya panen melimpah. Hasil tambang yang ada disana adalah pasir dan batuan yang lebih sering disebut bahan galian C
4.2.3. Curah Hujan
Kondisi iklim di kampung Sabron Sari tergolong dalam iklim Basah dengan curah hujan yang cukup tinggi. Letak geografis Kampung yang terletak didaerah katulistiwa menyebabkan daerah ini beriklim Tropis / Akibat letak yang berada diantara dua Benua yaitu Asia dan Benua Australia maka iklimnya dipengaruhi oleh angin Muson Tenggara yang bertiup secara bergantian 6 bulan sekali.
Angin Muson Tenggara yang bertiup antara bulan  Mei hingga bulan November berasal dari Benua Australia yang pada bulan-bulan tersebut matahari berada di utara katulistiwa sehingga daerah ini merupakan daerah yang rendah tekanan udaranya. Angin ini mempunyai sifat tidak banyak mengandung uap air, karena daratan Australia sebagian besar daerah savana yang tandus. Karena sifatnya demikian maka di Sabron Sari dan sekitarnya terjadi musim panas.
Angin Muson Barat Laut yang bertiup antara bulan Desember hingga April mempunyai sifat sebaliknya dengan Angin Muson Tenggara. Angin ini berasal dari Daratan Asia yang pada saat itu Matahari berada di atas Australia (Selatan Katulistiwa) sehingga  menyebabkan daerah di sini rendah tekanan udaranya.
Angin Muson Barat Laut banyak mengandung uap air karena daerah yang dilaluinya cukup panjang dan hampir sebagian besar melewati laut dan samudera, karena sifatnya demikian banyak mendatangkan hujan di Jayapura dan sekitarnya.
4.2.4. Hidrologi
Hidrologi dibatasi hanya pada hidrologi permukaan berupa sungai. Sungai yang mengalir di Wilayah Kampung Sabron Sari terdapat dua sungai yaitu sungai dei dan sungai snei. Sungai tersebut bersifat perennial, artinya berair sepanjang tahun. Sungai dei perennial diprgunakan oleh PDAM sebagai sumber bahan air bersih untuk dikonsumsi oleh warga Kampung Sabron Sari. Sumber air di Wilayah Kampung Sabro Sari dari sungai dan air tanah (sumur bor). Sungai yang melintas di Wilayah Kampung ini sebanyak 2 (dua) sungai, sebagian besar muara menuju ke Pantai Utara (Samudera Pasifik) dan pada umumnya sangat tergantung pada fluktuasi air hujan. Disamping itu terdapat sungai-sungai kecil yang merupakan sumber air permukaan yang mengalir di wilayah ini namun pada waktu musim hujan.



4.3. Pola Penggunaan Lahan
Di Wilayah Kampung Sabron Sari pada umumnya lahan digunakan untuk pertanian, perkebunan, pemukiman. Fungsi lahan yang dapat di manfaatkan oleh masyarakat kampung Sabron Sari disajikan pada table 5 di bawah :
Tabel 4.1
Fungsi lahan yang dapat di manfaatkan oleh masyarakat kampung Sabron Sari
No
Fungsi penggunaan
Luas (Ha)
1
Pertanian
4,25
2
Perkebunan
20,15
3
Pemukiman
12,09
4
Hutan
-
Total
36,49
Sumber Data : Hasil Survei Tahun  2010
4.4. Keadaan Penduduk
4.4.1. Jumlah Penduduk dan Pengembangan Penduduk
Berdasarkan data balai kampung Sabron Sari Tahun 2009 data yang ada, jumlah penduduk sebanyak 872 jiwa yang sebanyak di tiga wilayah RW. Jumlah penduduk terdapat di RW III Gerirejo sebanyak 366 jiwa, sedangkan jumlah penduduk yang terkecil adalah RW II Kampung Baru sebanyak 156 jiwa. Adapun Jumlah Penduduk Berdasarka Jenis Kelamin di Kampung Sabron Sari pada tahun 2009  disajikan pada tabel 2 di bawah ini.

Tabel 4.2
Jumlah Penduduk Berdasarka Jenis Kelamin
No.
Wilayah RW/RT
Jumlah Penduduk
Jumlah Jiwa
Laki-Laki
Perempuan
1.
RW. I Kertosari




RT I/RW I Kertosari
76
58


RT II/RW I Kertosari
51
45
350

RT III/RW I Kertosari
61
59

2.
RW II Kampung Baru




RT I/RW II Kamp. Baru
38
37
156

RT II/RW II Transad
43
38

3.
RW III Girirejo




RT I/RW III Girirejo
60
66


RT II/RW III Weri
49
38
366

TR III/RW III Mulia
92
61

Jumlah
470
402
872
Sumber Data : Monografi Kampung Sabron Sari Tahun 2010
4.4.2. Tingkat Kepadatan Penduduk
Dari adanya data penduduk yang di peroleh berdasarkan hasil surveii, di ketahui bahwa jumlah penduduk Kampung Sabron Sari pada tahun 2009 berjumlah 872 jiwa.
Tabel 4.3
Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kampung Sabron Sari
Tahun 2009
No
Kelurahan /
Kampung
Luas Wilayah
(ha)
Jumlah Penduduk
(Jiwa)
Kepadatan
(Jiwa/ha)
1
2
3
4
5
1.

Sabron Sari
6250
872
0,1168
J u m l a h
7250
847
0,1168
Sumber :Kantor  Kampung Dosay

4.4.3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian menjadi tolak ukur dalam suatu kampung. Oleh sebab itu mempunyai criteria diantara lain tekanan penduduk terhadap lahan, tingkat kesejaterahan penduduk keberadaan dan penegakan norma. Data penduduk berdasarkan mata pencaharian masyarakat Kampung Sabron Sari sebagian besar penduduknya bermata pencaharian adalah Pertanian, Perkebunan dan Peternakan. Sedangkan yang lainnya adalah Buruh, Swasta, PNS, TNI/POLRI, dan Pensiunan.



Tabel 4.4
Status Sosial
No
Pekerjaan
Jumlah
1
Tani
328
2
Swasta
153
3
Guru
17
4
PNS
29
5
TNI
5
6
POLRI
12
7
Pensiunan
6
Total
550
Sumber Data : Monografi Kampung Tahun 2010
Dari data diatas ini terlihat bahwa pada umumnya masyarakat Kampung Sabron Sari bergerak di sector agraris ( Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan, Perikanan dan Peternakan. Untuk lebih jelas kita dapat lihat pada table jenis usaha yang dilakukan dalam luas lahan yang di garap untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
·         Bidang pertanian
Sector pertanian dikampung sabron sari sangat bagus sekali karena hasil panenya sangat berkualitas. Berikut ini adalah jenis-jenis yang diusahakan oleh masyarakat  Kampung Sabron Sari.
Table 4.5
Pertanian
No.
Jenis-jenis
Luas (Ha)
1
Jagung
0,5 Ha
2
Singkong
0,25 Ha
3
Kacang panjang
2 Ha
4
Kangkung
0,5 Ha
5
Petatas
0,50 Ha
6
Keladi
0,50 Ha
Total
4,25 Ha
Sumber Data : Hasil Survei


SDC11773 






Gambar 4.1 Bidang Pertanian
·         Bidang Perkebunan dan Kehutanan
Hasil perkebunan yang ada di kampung Sabron Sari sangat menunjang untuk kebutuhan hidup para petani dan hasilnya juga sangat berkualitas. Berikut adalah jenis tanaman yang di tanam dalam bekerjasama dengan pihak kehutanan dalam tabel berikut:
Table 4.6
Perkebunan dan kehutanan
No.
Jenis tanaman
Jumlah
1
Coklat
12275
2
Kopi
42
3
Petai
196
4
Kedondong
30
5
Kelapa
1350
6
Jeruk
68
7
Duku
500
8
Durian
445
9
Rambutan
2265
10
Salak
77
Sumber Data : Hasil Survei Tahun 2010





 







Gambar 4.2 Perkebunan
·         Bidang Peternakan dan Perikanan
Selain pertanian dan perkebunan ada juga perikanan dan peternakan yang diusahakan oleh masyarakat diantaranya dapat dilihat pada table berikut :
Table 4.7
Perikanan dan peternakan
No.
Jenis-jenis
Jumlah
1
Ayam
3501
2
Sapi
91
3
Babi
187
4
Kambing
121
5
Itik/bebek
99
6
Petai
196
7
Ikan mujair
2000
8
Ikan mas
700
9
Ikan lele
500
10
Ikan gabus
200
                     Sumber Data : Hasil Survei Tahun 2010
 






Gambar 4.3 Perikanan dan Peternakan

4.4.4. Jumlah penduduk Berdasarkan Agama
Selain itu juga masyarakat kampung Sabron Sari juga memeluk agama yaitu kepercayaan mereka dalam menjalankan ibadah sesuai dengan kepercayaannya itu demi keselamatannya diakhirat nanti. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table jumlah penduduk berdasarkan agama yang dianutnya.
Table 4.8 Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama
No.
Agama
Jiwa
1
Islam
436
2
Kristen Protestan
407
3
Kristen Katholik
24
Total
872
Sumber Data : Monografi Kampung Tahun 2009
4.5. Prasarana dan Sarana Transportasi
Terminal yang dimiliki oleh Kampung Sabron Sari  terdapat di depan balai kampung yang melayani jalur Ibu Kota Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura. Jenis angkutan yang menggunakan terminal adalah dari mini Bus. Kemudian ada juga kendaraan pribadi berupa Motor dan Mobil yang dimiliki oleh masyarakat. Adapun jenis transportasi angkutan tersebut di sajikan pada tabel 24 di bawah ini :
Tabel 4.9 Jenis Transportasi Angkutan
No.
Jenis
Jumlah
1
Sepeda
4
2
Motor
20
3
Mobil
18
4
Pic Up
2
5
Box
2
6
Trek
1
7
Bis
3
Total
51
Sumber Data : Hasil Survei Tahun 2010
4.6. Ketersediaan Fasilitas Sosial Ekonomi
4.6.1. Fasilitas Sosial
a. Pendidikan
Kemudian kita melihat bahwa jumlah jiwa yang begitu banyak di tingkat Kampung ini juga berpengaruh pada tingkat pendidikan guna mengukur Sumber Daya Manusia yang ada di Kampung Sabron Sari, agar lebih jelasnya dapat dilihat pada table 17 di bawa ini.
Table 4.10
Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No.
Tingkat pendidikan
Jiwa
1
TK
23
2
SD
189
3
SMP
132
4
SMA/K
74
5
D-II
11
6
D-III
27
7
S-1
26
8
Tidak Sekolah
392
Total
872
  Sumber Data : Monografi Kampung Tahun 2009
c.       Kesehatan
Wilayah Kampung Sabron Sari  terdapat 1 Poliklinik yang mempermudah untuk melakukan pengobatan. Dan dengan adanya tempat pengobatan dapat menunjang kebutuhan kesehatan masyarakat sehingga mereka tidak dapat lagi berobat kepuskesmas tapi di tangani di Poliklinik.






SDC11855
 






Gambar 4.4 Fasilitas Kesehatan
d.      Peribadatan
Wilayah Kampung Sabron Sari semua penduduk mengakui Tuhan sebagai Juruh Selamatnya ini terlihat jelas dalam bangun-bangunan gereja dan Mesjid yang berdiri megah walaupun sederhana. Dimana ada 2 buah bangunan Mesjid dan 9 buah gereja.
Table 4.11
Fasilitas peribadatan
No.
Fasilitas peribadatan
Jumlah
1
Gereja
6
2
Masjid/Musola
2
Total
8
Sumber Data : Hasil Survei Tahun 2010
SDC11637







Gambar 4.5 Fasilitas Peribadatan


e.       Taman Dan Lapangan Olahraga
Kampung Sabron Sari memiliki 1 lapangan olahraga Dwifungsi yaitu Badminton dan volley Ball dan 1 lapangan Bola Volley standar. Sarana yang ada ini sering digunakan dalam menyongsong hari raya besar keagamaan dan hari besar nasional. Gambar di bawah ini menunjukan bawah lapangan dwifungsi ini termasuk standar daerah dan layak untuk di gunakan.
Table 4.12
Lapangan Olahraga

No.
Jenis
jumlah
1
Volley Ball
2
2
Badminton
1
Sumber Data : Hasil Survei Tahun 2
SDC11853




Gambar 4.6 Lapangan Dwifungsi
4.6.2. Fasilitas Ekonomi
a. Air Bersih
Sarana sanitasi dasar meliputi persediaan air bersih, kepemilikan keluarga, pengelolaan air limbah, serta adanya rumah sehat. Untuk sarana sanitasi dasar sampai Tahun 2009 di Kampung Sabron Sari belum terdapat sanitasi air bersih yang optimal namun air air bersih secara swadaya di alirkan tapi alirannya lemah kerena dialihfunsikan. Sarana Air Bersih disajikan pada tabel 15 di bawah ini.
Tabel 4.13
Sarana Air Bersih
No.
Keterangan
Jumlah
1
Sumur
42
2
Alam (Sungai)
2
3
Bak penampung
4
4
PDAM (Swadaya)
1
Sumber Data : Hasil Survei Tahun 2010


 






Gambar 4.7 Sarana Air Bersih
b. Persampahan
Masyarakat Kampung Sabron Sari dalam cara pengolahan sampahnya dilakukan oleh masing-masing keluarga dan hasil dari pada pantauan bahwa di Kampung Sabron Sari perlu disediakan TPS  sehingga keindahan kampung Sabron Sari terlihat indah dan layak di jadikan tempat wisata. Kemudian untuk mengangkut sampah dari TPS harus diangkut oleh 1 truk pengangkut sampah, maka perlu untuk mengadakan truk pengangkut sampah.


c. Listrik
Fasilitas listrik di Kampung Sabron Sari dilayani oleh PLN wilayah X. Cabang Jayapura. Adapun konsumen yang mengunakan listrik tersebut dapat disajikan pada tabel 13 di bawah ini
Table 4.14
Konsumen Yang Mengunakan Listrik
No.
Keterangan
Jumlah
1
Konsumen/Pengguna
157
2
Gardu
3
3
Tiang Listrik
93
Sumber Data : Hasil Survei Tahun 2010
SDC11762




Gambar 4.8 Fasilitas Listrik
d. Drainase
Sistem drainase di pinggir jalan dibuat supaya dapat mengalirkan air dari pembuangan dari limbah rumah. Dan di Kampung Sabron Sari aliran unktuk drainasenya belum ditata atau dibuat yang hanyak buatan swadaya masyarakat itu adalah drainase di jalan sekunder. Namun dijalan primer sudah dibuat dengan baik dan tinggal perawatannya yang harus di tingkatkan sebab jalur tersebut adalah jalur utama atau jalan kabupaten. Jenis-jenis drainase tersebut disajikan pada tabel 14 di bawah ini.


Table 4.15
Jenis-Jenis Drainase
No.
Jenis
Keterangan
Lebar
Tinggi
1
Primer
70 cm
30
2
Sekunder
-
-
3
Teresier
-
-
Sumber Data : Hasil Survei Tahun 2010
 






Gambar 4.9 Drainase
f.       Telepon
Pelayanan telekomunikasi di Kampung Sabron Sari kebanyakan menggunakan Hand Phon (HP) seluler. Penggunaan HP ini dari tahun ke tahun menunjukan meningkat yang cukup signifikan. Sebelum ada fasilitas  HP merupakan fasilitas mewah dan di gunakan oleh orang-orang tertentu saja, namun seiring dengan kemajuan Informasi Teknologi (IT) dan perubahan globalisasi yang terjadi  serta kebutuhan masyarakat  untuk mengikuti teknologi membuat telekomunikasi bukan lagi barang mewah namun merupakan kebutuhan yang harus di miliki setiap orang, akibat dari memasyarakatnya banyak yang menggunakan telepon gegam atau HP seluler.






BAB  V
A N A L I S A
5.1.            Analisa Kondisi Fisik Dasar
5.2.1.      Analisa Geologi
Struktur gologi di Kampung Sabron Sari memiliki 3 jenis tanah yang paling dominan yaitu latosol yang mana kepekaan terhadap erosi dari tanah ini sangat kecil sehingga layak untuk perumahan.
1.      Latosol
Jenis tanah ini memiliki kepekaan terhadap erosi sangat kecil sehingga layak untuk dibangun perumahan. Jenis tanah ini tersebar pada seluruh wilayah studi.
2.      Alluvial
Jenis tanah ini tersebar pada daerah bertopografi datar sampai bergelombang di dataran rendah.
3.      Podsolik Merah kuning (Red Yellow Podsolik)
Merupakan jenis tanah yang peka terhadap erosi, sehingga untuk pengembangan perumahan tidak layak, Penyebarannya pada daerah bertopografi bergelombang sampai pegunungan.
5.2.2.      Analisa Hidrologi
Melihat kondisi hidrologi Kampung Sabron Sari dimana terdapat anak-anak sungai (kali) yang dimanfaatkan sebagai bahan baku PDAM, maka disepanjang anak sungai tersebut harus dijadikan lahan konservasi dengan mendasar pada garis sempadan sungai yakni 100² guna menjaga kelestarian fungsi sungai serta mencegah terjadinya pengikisan tanah oleh air.

5.2.3.      Pola Penggunaan Lahan
Lahan merupakan tempat atau wadah berlangsungnya aktivitas manusia dalam berbagai bentuk dan karakteristiknya yang berbeda-beda. Begitupun dengan tumbuh dan berkembangnya suatu wilayah, maka lahan merupakan faktor penentu dan acuan yang harus digunakan sebagai area yang akan dikembangkan. Kenyataan ini tidak dapat dipungkiri bahwa suatu wilayah dalam tahap perkembangannya jelas akan membutuhkan lahan yang sesuai untuk dijadikan sebagai lahan yang disesuaikan dengan potensi dan kondisi yang dimiliki, sehingga dengan demikian akan terjadi pengalihfungsian tata guna lahan yang ada.
Dari data yang diperoleh dimana pola penggunaan lahan yang ada di Kampung Sabron Sari terdiri dari Pertanian, Permukiman, Perkebunan dan Hutan, maka sehubungan dengan pengembangan perumahan sehingga dianggap perlu memperhatikan produktivitas lahan terbuka yang ada seperti:
a.      Lahan Pertanian
Luas lahan pertanian yang ada di Kampung Sabrin Sari adalah sebesar 4,25 ha, dimana pemanfaatannya berupa jagung, kangkung, kacang panjang, ubi jalar, ubi kayu, dan lain-lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat, oleh sebab itu lahan ini dapat difungsikan menjadi lahan perumahan.
b.      Hutan
Lahan hutan yang ada di Kampung Sabron Sari, berada pada dataran rendah hingga bergelombang. Lahan ini sebagian besar 60% adalah hutan dari kaki Gunung Sycoloop dan 30% di miliki oleh masyarakat setempat sehingga dapat difungsikan menjadi lahan perumahan.  

5.3.            Proyeksi Penduduk
Perkembangan penduduk suatu daerah merupakan salah satu indikator untuk memproyeksikan tingkat perkembangan daerah dan kebutuhan akan fasilitas yang dibutuhkan pada masa yang akan datang. Sebagaimana diketahui bahwa karakteristik kependudukan merupakan tolak ukur bagi kapasitas suatu ruang. Maka untuk memperkirakan besaran atau kapasitas ruang Kampung Sabron Sari perlu dilakukan langkah perkiraan jumlah penduduk melalui suatu proses perhitungan tersendiri yang disebut proyeksi penduduk.
Untuk memproyeksikan penduduk pada Kampung Sabron Sari pada 5 tahun mendatang dilakukan dengan menggunakan metode bunga berganda, dengan rumus dasar sebagai berikut:


Pt + n = Pt (1 + r) n
 
 


Dimana:
Pt + n  = Penduduk daerah yang diselidiki pada tahun n
Pt         = Penduduk yang diselidiki pada tahun n
r           = Rata-rata pertumbuhan penduduk suatu daerah tiap tahun
n          = Jumlah tahun proyeksi

Untuk lebih jelas mengenai hasil prediksi penduduk Kampung Sabron Sari tahun 2009-2014 dapat dilihat pada tabel berikut.

 


Tabel 5.1
Proyeksi Penduduk Kampung Sabron Sari

No.
Kelurahan/Kampung
Jumlah Penduduk
2009
2014
1
2
3
4
1.
Sabron Sari
872

881
Jumlah
872
881
Sumber; Hasil Analisa, 2010

Proyeksi penduduk Kampung Sabron Sari 2009 - 2014
Pt + n = Pt (1 + r) n
2011    = 872 (1 + 0,002)1
            = 872 (1,002)1
            = 873
2012    = 872 (1 + 0,002)2
            = 872 (1,002)2
            = 875                          
2013    = 872 (1 + 0,002)3
            = 872 (1,002)3
            = 877
2014    = 872 (1 + 0,002)4
            = 872 (1,002)4
            = 879
2015    = 872 (1 + 0,002)5
            = 919 (1,002) 5
            = 881
           

5.4.            Analisa Kebutuhan Perumahan
5.4.1.      Perumahan
Perumahan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang harus terpenuhi disamping kebutuhan-kebutuhan lainnya dalam mempertahankan kelangsungan hidup. Untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia secara wajar, daerah permukiman dalam perumahan tidak dibiarkan berkembang secara spontan dan liar, melainkan harus diatur dan ditata berdasarkan pola perencanaan yang baik dan memperhitungkan tingkat kebutuhan dan tingkat pelayanan penduduk.
Dengan berdasar pada Surat Keputusan bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Perumahan Rakyat tentang Pedoman Perumahan dan Permukiman dengan Lingkungan Hunian yang Berimbang (1992) yakni perbandingan pembangunan perumahan 6 : 3 : 1 dan pembagian luas lahan berdasakan data dari perum perumnas adalah
·         Type 45 dengan KDB 65%  bangunan dan 35% lantai pelayanan.
ü  Luas  kaveling/unit                              = 72 m2  (9x8 m2)
ü  Luas lantai Bangunan/unit                  = 45 m2
ü  Luas lantai pelayanan/unit                  = 27  m2

·         Type 72 dengan KDB 65%  bangunan dan35% lantai pelayanan,
ü  Luas kaveling/unit                               = 90 m2  ( 9x10 m1)
ü  Luas lantai bangunan/unit                   = 72 m2
ü  Luas lantai pelayanan/unit                  = 18  m2


·         Type 90 dengan KDB 65%  untuk bangunan 35% lantai pelayanan.
ü  Luas kaveling/unit                               = 121 m2  (11x11 m1)
ü  Luas lantai bangunan/unit                   = 90 m2
ü  Luas lantai pelayanan/unit                  = 30  m2
Maka untuk pengembangan perumahan di wilayah penelitian dihitung sebagai berikut:
Jumlah pertambahan penduduk tahun 2014 adalah 881 jiwa dan diasumsikan 1KK terdiri dari 5 jiwa, sehingga jumlah unit rumah yang dibutuhkan adalah 177 dengan perincian sebagai berikut:
Untuk Type 45            : 177 x 60% = 106
Untuk Type 72            : 177 x 30% =   53
Untuk Type 90            : 177 x 10% =   18
                                                            177 unit

Dari hasil pembagian type kaveling dan luas lahan type, didapati luas lahan untuk perumahan secara keseluruhan adalah 14.480 m2
Atau 14,48 ha., dengan perincian sebagai berikut:
Untuk Type 45            : 106   x  72m  = 7632
Untuk Type 72            :   53   x   90m = 4770
Untuk Type 90            :   18   x 121m = 2178
                                                               14.480 m2




Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 5.2
Kebutuhan rumah di wilayah studi tahun 2010

No
Kelurahan
/Kampung
Jumlah Penduduk
Standar Kebutuhan
Type Rumah
Luas Lahan
2009
2014
1
2
3
4
5
7
8
1.
Sabron Sari
872
881
Di asumsikan 1 rumah= 5 jiwa
45 = 106
72 =   53
90 =   18
14.480 m²
Sumber: Hasil Analisa, 2009

Dari hasil analisa di dapat luas lahan yang dibutuhkan untuk pengembangan perumahan di Kampung Sabron Sari pada tahun 2014 adalah sebesar 14,48 ha, sedangkan luas lahan yang tersedia dan layak dikembangkan 6,25 ha.
Pengembangan perumahan diarahkan pada kawasan kemiringan 0-30%, walaupun demikian prioritas pengembangan baru diarahkan pada wilayah potensial dengan kemiringan 0-15%.
Pengembangan perumahan baru dilakukan di wilayah kemiringan >30%, garis sepadan sungai, garis sepadan jalan maupun pantai dihindarkan.

5.5.            Analisa Kebutuhan Sarana
5.5.1.      Fasilitas
a.      Fasilitas Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dalam wilayah perkotaan dan perdesaan karena pendidikan merupakan tolak ukur bagi kemajuan suatu bangsa. Berdasarkan hasil proyeksi penduduk hingga 2014 dimana pertambahan penduduk tahun proyeksi sebanyak  881 jiwa dimana kebutuhan fasilitas pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5.3
Jumlah Fasilitas Pendidikan tahun 2014

No
Kelurahan/Kampung
Jumlah Penduduk Tahun 2014
Jenis Fasilitas
Minimum Penduduk Pendukung
Jumlah Unit
Luas Lahan
Tahun 2009
Tahun 2014
1
2
3
4
5
6
7
8
1.
Sabron Sari
872
TK
SD
SMP
1000
1000
1000
2
1
1
-
-
-
-
-
-
Sumber: Hasil Analisa, 2009

Dari hasil analisa diatas, jumlah fasilitas pendidikan yang dibutuhkan untuk tahun 2014 adalah  tidak tersedia dikerenakan kurangnya jumlah penduduk pendukung.
b.      Fasilitas Kesehatan
Fasilitas kesehatan merupakan salah satu fasilitas yang keberadaannya sangat dibutuhkan dalam memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Kebutuhan fasilitas kesehatan tahun 2014 dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 5.4
Jumlah Fasilitas Kesehatan Tahun 2014

No
Kelurahan/Kampung
Jumlah Penduduk Tahun 2017
Jenis Fasilitas
Minimum Penduduk Pendukung
Jumlah Unit
Luas Lahan
Tahun 2009
Tahun 2014
1
2
3
4
5
6
7
8
1.
Sabron Sari
860
Pusekesmas
Puskesmas Pembantu
120.000
30.000
-
-
-
-
-
-
Sumber: Hasil Analisa, 2010

Dari hasil analisa diatas, jumlah fasilitas kesehatan untuk tahun 2014 tidak tersedia karena kurangnya jumlah penduduk pendukung.


c.       Fasilitas Peribadatan
Ketersediaan fasilitas peribadatan dalam suatu wilayah akan mencerminkan kadar keimanan bagi masyarakat dan pengabdian antara hamba (cipataan) dengan pencipta-Nya dalam hubungan vertical, maka fasilitas peribadatan sangat di butuhkan
Tabel 5.5
Jumlah Fasilitas Peribadatan Tahun 2014

No
Kelurahan/Kampung
Jumlh Penduduk Tahun 2017
Jenis Fasilitas
Minimum Penduduk Pendukung
Jumlah Unit
Luas Lahan
Tahun 2009
Tahun 2014
1
2
3
4
5
6
7
8
1.
Sabron Sari
881
Gereja
Masji/Musolah
2.500
2.500
6
2
-
-
-
-


Dari hasil analisa di atas, kebutuhan fasilitas peribadatan untuk tahun 2014 tidak tersedia dikarenakan kurangnya jumlah penduduk pendukung.
d.      Fasilitas Taman dan Lapangan Olahraga
Yang dimaksud dengan fasilitas ini adalah bangunan dan taman yang dipergunakan untuk aktivitas olahraga dan rekreasi, mengingat fungsinya yang cukup penting. Selain fungsinya untuk mengurangi kepadatan kawasan permukiman juga sebagai penyegar dan filter terhadap polusi.
Tabel 5.6
Fasilitas Taman dan Lapangan Olahraga 2017

No
Kelurahan/Kampung
Jumlh Penduduk Tahun 2017
Jenis Fasilitas
Minimum Penduduk Pendukung
Jumlah Unit
Luas Lahan
Tahun 2009
Tahun 2014
1
2
3
4
5
6
7
8
1.
Sabron Sari
881
Taman
Lapangan Olahraga
250
2.500
-
2
-
-
-
-


Dari hasil analisa diatas, fasilitas taman dan olahraga yang dibutuhkan untuk tahun 2014 tidak tersedia dikarenakan kurangnya jumlah penduduk pendukung.
e.       Fasilitas Perdagangan dan Jasa
Dipandang perlu dari sudut ekonomi, kegiatan perdagangan merupakan kegiatan ekonomi yang produktif. Oleh karenanya kegiatan ini cenderung berlokasi pada tempat yang strategis dan mempunyai tingkat aksesibilitas yang tinggi.
Fasilitas ini berfungsi sebagai wadah pelayanan kebutuhan penduduk dan juga berfungsi sebagai lapangan pekerjaan yang mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap tingkat kemakmuran masyarakat. Kebutuhan fasilitas ini pada tahun 2014 adalah sebagai berikut:
Tabel 5-12
Jumlah Fasilitas Perdagangan tahun 2014

No
Kelurahan/Kampung
Jumlh Penduduk Tahun 2014
Jenis Fasilitas
Minimum Penduduk Pendukung
Jumlah Unit
Luas Lahan
Tahun 2009
Tahun 2014
1
2
3
4
5
6
7
8
1.
Sabron Sari
881
Kios
Toko
250
2.500
15
1
3
-
150
-

Dari perhitungan analisa diatas, jumlah fasilitas yang dibutuhkan untuk tahun 2014 adalah 3 unit yang terdiri dari kios dengan luas lahan 150 m² atau 0,15 Ha.




5.5.2.      Utilitas
a.      Kebutuhan Air bersih
Kebutuhan pelayanan air bersih di daerah studi sampai dengan tahun 2014 adalah sebesaar 132.150 ltr/org/hari. Dengan asumsi pelayanan sebesar 150%. Guna melihat kebutuhan air bersih dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 5.13
Kebutuhan Air bersih s/d Tahun 2014

No
Kelurahan
/Kampung
Jumlah Penduduk
Kebutuhan Air 150 lt/org/hari Tahun 2014
2009
2014

1
2
3
4
5
1.
Sabron Sari
872
881
132.150
Jumlah
872
881
132.150
Sumber: Hasil analisa 2010

b.      Persampahan
Penanganan sampah di Kampung Sabron Sari sampai saat ini selain dikelola oleh Dinas Kebersihan dan Pemakaman juga dikelola oleh individu yaitu dengan cara dibakar atau ditmbun dalam tanah.
Untuk menghitung berapa kebutuhan fasilitas pengelolaan sampah terlebih dahulu harus mengetahui besarnya jumlah timbunan sampah, berdasarkan SK SNI S-041993-03-03 tetang timbunan sampah untuk kota sedang dan kecil, maka besarnya timbunan sampah untuk kota kecil adalah 2,5m3/hari. Pada dasarnya untuk menghitung timbunan sampah adalah dengan menggunakan rumus :
VT       = P x S
dimana :
VT       : Timbunan Sampah
P          : Jumlah Penduduk
S          : Timbunan Sampah Perkapita 2,5m3/hari

Jumlah kebutuhan wadah sampah pada tahun 2014 adalah :
VT       = Jumlah Penduduk x Standar
= 881 x 2,5m3/hari
= 2202,5 m3/hari
Maka jumlah perwadahan sampah dengan kapasitas 60m3 adalah :
Jumlah Wadah                        : Volume Timbunan Sampah
                                             Kapasitas Wadah
: 2202,5
                 60
: 37 Wadah
Untuk jelaasnya dapat dilihat pada tabel
Tabel 5-14
Kebutuhan Wadah Sampah tahun 2014

No
Kelurahan
/Kampung
Jumlah Penduduk
Jumlah Timbunan Sampah 2014
Jumlah Kebutuhan Wadah Tahun 2014
2009
2014
1
2
3
4
5
6
1.
Sabron sari
872
881
2202,5
37
Jumlah
872
881
2202,5
37
Sumber: Hasil Analisis, 2010

Pengolahan dan pembuangan sampah pada Kampung Sabron Sari yaitu setelah system sampah dari penduduk dikumpulkan pada satu TPS, kemudian dibuang ke tempat pembuangan TPS akhir. Adapun TPS akhir telah disediakan Dinas terkait yaitu di Kampung Waibron yang berjarak 6 km dari kampong Sabron Sari.
Sebagai upaya mengurangi volume timbunan sampah ke TPA, dalam jangka pendek penanganan persampahan dengan sistem individual seperti yang sebagian besar penduduk lakukan saat ini yaitu dibakar dan ditimbun di halaman rumah, masih dapat dipertahankan.
c.       Listrik
Kebutuhan listrik sampai dengan tahun 2017 sebesar 2.121.300 KVA dengan pelayanan 100% penduduk yaitu 11.787 jiwa atau 2357 KK.
Tabel 5-15
Kebutuhan Pelayanan Listrik s/d Tahun 2014

No
Kelurahan/Kampung
Jumlah Penduduk
Standar Kebutuhan
Jumlah KK Tahun 2014
Keb. Listrik Min 900 KVA
2009
2014
1
2
3
4
5
6
7
1.
Sabron Sari
872
881
Di asumsikan
1 KK= 5 jiwa

158.800
Jumlah
872
881


158.800
Sumber: Hasil Analisis, 2010

d.      Drainase
System jaringan pada Kampung Sabron Sari umumnya termasuk tipe saluran primer, saluran terbuka, terowongan buatan dan terowongan alam. System pengaliran yang dipakai adalah system gravitasi melalui saluran terbuka dengan pembuangan akhir adalah alur alam, sungai dan akhirnya ke laut.














Tabel 5-115
Hasil Analisa Masing-Masing Variabel
Variabel
Kebutuhan
Listrik
158.400

Sumber: Hasil Analisa, 2010
Wadah Sampah
37

Air Bersih
132.150

Perdagangan
3

Taman dan Olahraga
-

Peribadatan
-

Kesehatan
-

Pendidikan
-

Perumahan
177

Proyeksi Penduduk
881

Lahan Layak


Lahan Terbangun
36,49


Luas Lahan
6,25 ha


Kelurahan/Kampung
Sabron Sari
Jumlah
No.
1.





















BAB VI
PENUTUP

1.1              Kesimpulan
Dari uraian bab yang terdahulu, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1.      Dari hasil proyeksi penduduk hingga tahun 2014, didapatkan 881 jiwa.
2.      Kebutuhan rumah tahun 2014 sebanyak 177 unit dengan kebutuhan luas lahan 14,48 Ha.
3.      Dari hasil overlay peta pada Kampung Sabron Sari dengan luas lahan 6,25 ha didapatkan lahan yang layak seluas 13.099 Ha.
4.      Dari hasil perhitungan aksesibilitas, daerah yang sangat berpotensi untuk dilakukannya pengembangan perumahan yaitu ………………………….
5.      Kebutuhan Fasilitas tahun 2014 sebagai berikut
a.       Fasilitas Pendidikan; TK dan SD tidak tersedia.
b.      Fasilitas Kesehatan; tidak ada.
c.       Fasilitas Peribadatan; tidak ada.
d.      Fasilitas Taman dan Olahraga; Tidak ada.
e.       Fasilitas Perdagangan; Kios sebanyak 3 unit.
6.      Kebutuhan Utilitas sampai dengan tahun 2014 adalah sebagai berikut:
a.       kebutuhan pelayanan air bersih sebesar 132.150 lt/org/hari dengan asumsi pelayanan sebesar 100%
b.      kebutuhan pelayanan listrik sebesar 158,400 KVA
c.       kebutuhan wadah untuk penampungan sampah sebanyak 37 wadah, dengan jumlah timbunan sampah sebesar. Penanganan sampah Kampung Sabron Sari sampai saat ini selain dikelola oleh Dinas Kebersihan juga dikelola oleh indvidu yaitu dengan cara dibakar.

1.2              Saran
Dalam upaya pengembangan perumahan di Kampung Sabron Sari dengan melihat kesesuaian lahan yang ada maka penulis mengemukakan saran:
1.      Memperhatikan kondisi fisik lahan atau daya dukung lahan.
2.      Membangun perumahan dengan melihat pertimbangan perbandingan 6 : 3 : 1.
3.      Dalam penyediaan Fasilitas dan Utilitas penunjang maka penduduk merupakan faktor utama yang harus diperhatikan, sehingga dapat mendukung penduduk dalam aktivitas bermukim.














DAFTAR PUSTAKA

A.    Kelompok Buku
Budihardjo Eko, ‘Tata Ruang Perkotaan’, penerbit P.T. Alumni (Anggota IKAPI), Bandung, 1997
Budiharjo Eko, ‘Kota Berkelanjutan’, Alumni Bandung , 1999.
Catanese, Anthony. J & James C. Snyder, ‘Perencanaan Kota’, (terjemahan), Edisi II, Erlangga, Jakarta, 1998.
Supli Efendi Rahim, “Pengendalian Erosi Tanah Dalam Pelestarian Lingkungan Hidup, Bumi Aksara Jakarta, 2003
Ir. Budi D. Sinulingga, Msi, “Pembangunan kota”
Departemen Pekerjaan Umum, “Pedoman Perencanaan Lingkungan Permukiman Kota”, Direktorat Cipta Karya, 1979
Koestoer Raldi Hendro dkk, “Dimensi Keruangan Kota”, Universitas    Indonesia,  Jakarta 2001.
Hadi Sabari Yunus, Struktur Tata Ruang Kota, Pustaka Pelajar (Anggota IKAPI) Yogyakarta, 2001.








B. Kelompok Undang-undang
Bapeda Provinsi daerah Tingkat I Irian Jaya, Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Irian Jaya (Ringkasan), 1997-2007.
Undang-undang No. 4 Tahun 1992, “ Perumahan dan Permukiman”
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000, tentang Tingkat Ketelitian Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah, 2000

C.  Kelompok Makalah/Publikasi Terbatas
Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) BWK-B
Resubun Yanuarius : “Partisipasi Masyarakat Dalam Suatu Penataan Ruang Wilayah Kota”, Semiloka-USTJ, Jayapura, 2006
Rani, “Studi Pengembangan Perumahan Distrik Jayapura Selatan”, Tugas Akhir (Skripsi), 2004